
CINTA??? Sebenarnya apa sih cinta itu? Mengapa cinta itu bisa membuat orang-orang yang terlibat didalamnya atau yang merasakannya menjadi senang, bahagia dan bahkan sedih?
Saya pun tidak begitu mengerti apa yang dinamakan dengan cinta yang sebenarnya, cinta yang tulus, cinta yang benar menurut pandangan agama dan sebagainya. Maka dari itu mari kita bersama-sama mengenal atau mempelajari beberapa teori mengenai cinta.
Berdasarkan kamus umum bahasa Indonesia karya dari W.J.S. Poerwadarminta, menjelaskan bahwa Cinta itu adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Cinta itu bisa dikatakan sebagai suatu perasaan yang lebih mendalam dan Kasih itu dapat diwujudkan secara nyata.
Cinta bila dilihat dari sudut pandang ilmu Psikologi
Di dalam ilmu Psikologi ada beberapa tokoh yang menjelaskan mengenai teori-teori dari Cinta seperti Erich Fromm, R. Sternberg, Psikolog Kelley, dan juga Psikolog Dr. Sarlito W. Sarwono berikut ini adalah penjelasannya.
Menurut Erich Fromm (dalam Sodiq, 2010) di dalam cinta yang utama itu adalah rasa saling memberi dan bukan menerima. Memberi merupakan suatu ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan, memberi dalam arti hal-hal yang sifatnya manusiawi bukan materi. Fromm juga menjelaskan beberapa unsur dari cinta, yaitu :
Care atau peduli yaitu kalau kita mencintai seseorang maka kita harus menaruh perhatian serius pada kebahagiaan dan perkembangan pribadinya.
Bertanggung jawab yaitu siap memenuhi kebutuhan psikis orang yang dicintai dan membuatnya bahagia.
Respect atau hormat maksudnya kita mampu memandang dan menerima orang yang kita cintai dengan apa adanya, baik itu kebaikannya maupun keburukannya. Dalam artian tidak memaksakan seseorang yang kita cintai itu untuk memiliki kepribadian yang sama dengan kita. Hubungan cinta yang ideal itu tidak saling bergantung dan tidak saling meneksploitasi, artinya masing-masing harus bisa mandiri tetapi juga tetap saling mendukung satu sama lain.
Menurut Sternberg seorang psikolog (dalam Sodiq, 2010) menjelaskan bahwa Cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Sternberg terkenal dengan teorinya tentang Triangular Theory of Love (cinta segitiga) yang mengandung komponen yaitu :
Keintiman (intimacy) yang merupakan elemen dari emosi, didalamnya terdapat suatu kehangatan, kepercayaan (trust), dan keinginan untuk membina suatu hubungan. Misalnya ; seseorang yang sedang jatuh cinta akan merasa nyaman bila berbicara atau berkomunikasi dengan orang yang ia sukai itu dan juga merasa sangat rindu bila lama tidak bertemu.
Gairah (passion) merupakan elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.
Komitmen (commitment) merupakan elemen kognitif yang berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.
Cinta yang ideal adalah apabila ketiga komponen tersebut berada dalam proporsi yang sesuai pada waktu tertentu.
Menurut Kelley (dalam Sodiq, 2010) cinta dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Cinta karena nafsu : cinta jenis ini cenderung tak terkontrol karena hubungan antara dua orang yang atas nama cinta ini dikuasai oleh emosi yang berlebihan, dan disinilah istilah cinta buta berlaku.
2. Cinta pragmatis : pada cinta jenis ini ada keseimbangan antara rasa suka dan duka atau ada hubungan timbal balik, dan pada cinta jenis ini kedua orang yang terlibat cenderung dapat mengontrol perasaannya.
3. Cinta altruistik : pada cinta jenis ini biasanya dimiliki oleh seorang ibu untuk anaknya dan biasanya disertai oleh rasa kasih sayang yang tak terbatas.
Pengertian tentang cinta juga dikemukakan oleh Dr. Sarlito W. Sarwono bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu :
1. Keterikatan yaitu adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segalanya diprioritaskan untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dia. Yah mungkin segala sesuatu yang dimilikinya akan diberikan hanya untuk orang tersebut.
2. Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Misalnya panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan lain (sayang dan sebagainya), makan dan minum dalam satu piring dan gelas tanpa ada rasa risih, saling pinjam meminjam pakaian, tidak saling menyimpan rahasia dan lain sebagainya.
3. Kemesraan yaitu adanya rasa ingin dibelai atau membelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang dan sebagainya.
Cinta tingkat tertinggi adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Rasulullah (untuk umat muslim). Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri atau suami dan kerabat. Cinta tingkat rendah adalah cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan juga tempat tinggal.
Maka dari itu sebagai manusia kita harus berusaha untuk bisa menjaga rasa cinta dengan baik dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang dilarang, apalagi melakukan hal-hal yang yidak diinginkan dengan berdalih atas nama cinta.
Banyak orang yang bilang bahwa “Cinta itu tidak harus memiliki” khususnya untuk rasa cinta kepada lawan jenis...yah saya setuju bahwa janganlah kita memaksakan kehendak kita dalam arti kita memaksa orang yang kita cintai itu harus kita miliki dan harus mencintai kita juga karena dengan begini kita hanya dapat memiliki fisik dari orang tersebut tetapi kenyataannya kita tidak mendapatkan cinta yang tulus dari orang tersebut (hati dan jiwanya).
Sumber :
Nugroho .W & Muchji .A. (1994). Ilmu Budaya Dasar (Seri Diktat Kuliah). Jakarta: Universitas Gunadarma.
Sodiq .B. (2010). Ya Allah, Aku Jatuh Cinta!. Sukoharjo: Samudera.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
