Jatuh Cinta Diam-Diam
Disini hanya ada aku sendiri duduk disebuah bangku taman dibelakang halaman rumahku, saat itu perasaan ku sangat sedih dan tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat menghilangkannya dalam hatiku ini. Aku pun tak tahu harus mencurahkan semua yang aku rasakan saat ini kepada siapa karena tak ada satu pun teman ku yang bersedia meluangkan waktunya untuk ku dengan alasan mereka sangat sibuk.
Baiklah aku mengerti alasan yang mereka berikan itu dan aku pun sampai tidak berani untuk membuka internet, mungkin terdengar sedikit membingungkan karena apa hubungannya antara perasaan ku dengan media internet itu. Yah..menurut ku ada hubungannya karena setiap kali aku membukanya pasti aku akan melihat atau membaca sesuatu yang akan membuat perasaan ku kecewa dan sakit lagi.
Berawal dari perasaan seorang perempuan biasa yang belum meraih cita-citanya karena memang dia sedang berusaha untuk menyelesaikan study-nya...yah itu adalah aku. Beberapa tahun yang lalu, aku menaruh simpati kepada seorang laki-laki yang bisa dibilang sangat pekerja keras dan juga smart. Dia adalah salah satu mahasiswa di kampus ku tetapi beda angkatan dengan ku karena dia mahasiswa S2 dan jurusan kami pun berbeda. Kami tidak saling mengenal hanya saja entah mengapa aku selalu memperhatikannya, awalnya perasaan ku biasa-biasa saja karena menurut ku perbedaan usia diantara kami yang cukup jauh sehingga membuat aku hanya mengaguminya saja.
Sempat tak terbayangkan oleh ku untuk dapat berkenalan dengannya tapi ternyata waktu itu aku bisa juga bertatapan langsung dan berkenalan dengannya karena memang teman ku sudah kenal lebih dulu dengan dia sehingga kami bisa berkenalan. Semenjak itulah kami suka berkomunikasi melalui salah satu media jejaring sosial walaupun tidak terlalu sering tapi yah lumayan juga, apalagi ketika pertanyaan atau sapaan ku mendapatkan respon yang positif dari dia itu bisa membuat aku sangat bahagia.
Sampai suatu saat dilain kesempatan kami bisa berjumpa kembali yaitu disuatu acara yang diadakan oleh teman ku yang tinggal diluar kota karena kebetulan saat itu aku sedang berada di kota yang sama maka aku menyempatkan untuk hadir diacara teman ku itu, apalagi ketika aku tahu bahwa dia juga hadir dan itu juga yang membuat ku semangat datang kesana. Ketika aku duduk bersama teman-teman ku dibarisan belakang, tak disangka dia yang duduk dibarisan paling depan melihat ke arah kami dan tersenyum ramah kepada kami.
Setelah acara selesai, dia menghampiri kami dan mengajak kami mengobrol. Tak disangka juga ternyata dia masih mengenal dan mengingat nama ku, saat itu aku pun sangat bahagia karena ditengah kesibukannya apalagi dia pasti sering bertemu dengan banyak orang ternyata dia masih mengingat nama ku yang menurut ku tidaklah mungkin karena kami baru sekali bertemu waktu itu.
Semenjak itu kami menjadi cukup sering berkomunikasi walaupun lagi-lagi hanya melalui media jejaring sosial saja karena aku tidak memiliki nomor handphone-nya dan di kampus kami juga jarang berjumpa, yah aku bisa mengerti mengapa dia tidak memberitahu nomor handphone-nya kepadaku karena itu adalah privasi untuknya. Tak disangka setelah pertemuan itu aku menjadi sering memikirkannya bahkan aku sampai menyimpan foto-fotonya yang aku dapat dari profil jejaring sosialnya, hal ini yang membuat aku sangat bahagia apabila aku mengingat kejadian-kejadian yang lalu.
Namun selang waktu yang tak terlalu lama, aku pun dihadapkan dengan suatu kenyataan yang membuat harapan ku seakan-akan musnah. Ketika itu entah mengapa aku ingin sekali membuka internet dan ternyata firasat ku benar, aku membaca semua obrolan-obrolannya dengan perempuan lain distatus jejaring sosialnya yang menurut ku sangat berbeda ketika dia membalas pesan-pesan ku dan perempuan itu tidak lain adalah kakak kelas ku sendiri yang sekarang bekerja sebagai seorang dosen di kampus ku.
Aku harus akui mungkin dia merasa lebih nyaman bila berkomunikasi dengan kakak kelas ku itu karena memang usia mereka yang tidak terlalu jauh dan juga teman ku itu bisa dibilang sebagai wanita yang tangguh karena saat ini dia telah menyandang gelar S2 dan memiliki karier yang bagus dibandingkan aku yang belum ada apa-apanya. Rasa minder selalu muncul di diriku apalagi aku belum menamatkan pendidikan ku dibangku kuliah ini, apalagi ketika aku harus berkali-kali kecewa karena akhir-akhir ini semua pesan-pesan ku diabaikan olehnya sedangkan semua pesan-pesan dari wanita itu selalu saja dia jawab.
Aku merasa menjadi semakin jauh dengannya dan sempat membuat ku berpikir kenapa aku merasa sangat cemburu padahal dia bukan siapa-siapa aku, dan bahkan dia pun tak tahu perasaan ku ini kepadanya. Aku tidak berani mengungkapkan perasaan ku ini semua rasa bahagia, sakit hati, kecewa dan juga sedih hanya aku sendiri yang merasakannya.
Aku hanya bisa menangis dan marah-marah sendiri bahkan sampai menyalahkan diri ku sendiri yang bingung mengapa bisa-bisanya aku memiliki perasaan seperti ini. Jujur aku jatuh cinta kepada dirinya bukan karena materi tetapi dari kepribadiannya karena menurut ku dia laki-laki yang dewasa, pekerja keras, ibadahnya bagus dan menghargai setiap wanita. Aku sempat merasa bahwa dialah sosok laki-laki yang selama ini aku cari walaupun aku belum sepenuhnya mengenal kepribadiannya.
Aneh, mungkin itu yang akan dikatakan oleh saudara-saudara ku apabila aku menceritakan perasaan ku ini tetapi bukankah perasaan seperti ini wajar-wajar saja dan bahkan normal. Ingin rasanya menghapus semua perasaan ini tetapi aku tak mampu untuk menghapus bayang-bayang dirinya dipikiran ku, bahkan setiap kali aku ingin berusaha melupakannya dia selalu hadir di dalam mimpi ku.
Setiap malam aku hanya bisa mencurahkan kegundahan ku ini kepada Sang Maha Pencipta karena aku pun tak tahu harus kepada siapa lagi aku bercerita. Tuhan...apa yang sebenarnya terjadi? Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini, apakah aku salah karena telah memiliki perasaan seperti ini kepadanya? Apakah suatu saat nanti aku bisa bersamanya? Pertanyaan demi pertanyaan aku berikan kepada-Nya sampai tak terasa air mata ini menetes di pipiku.
Namun seiring berjalannya waktu aku pun sadar bahwa aku harus bangkit dari semua ini dan aku harus bisa mengendalikan emosi ku seperti yang aku pelajari dibangku kuliah ku ini, aku tidak boleh egois dan memaksakan kehendak karena aku tak boleh memaksanya untuk jatuh cinta juga kepadaku. Di saat hatiku sedang sedih, ayah ku memberikan nasihat kepadaku tentang kehidupan bahwa bila kita ingin hidup tenang dan bahagia maka hanya ada satu kuncinya yaitu “Tulus” maka dengan begitu hati kita pun menjadi tenang serta masalah demi masalah yang kita hadapi akan terasa ringan.
Awalnya berat bagi ku tetapi pencerahan yang ayah ku berikan sedikit demi sedikit bisa aku jalani dan memang benar hasilnya aku menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Aku tulus mencintainya dan aku pun selalu mendoakan yang terbaik untuknya karena ini bukanlah salah siapa-siapa, apalagi dia yang tak tahu bagaimana perasaanku ini kepadanya hanya saja ini merupakan suratan takdir yang harus aku lalui mungkin supaya aku bisa menjadi lebih dewasa lagi.
Di setiap doa aku pun berharap semoga suatu saat nanti dia mendapatkan kebahagiaannya begitu juga dengan diri ku karena aku tak pernah menyesali pernah bertemu dengannya dan memiliki perasaan ini kepadanya. Aku juga tak pernah membencinya karena tak ada alasan untuk ku menbencinya, aku sungguh tulus mencintainya apa adanya dia.
Disini aku mencurahkan seluruh perasaan ku ke dalam bentuk tulisan karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengenangnya, dalam hati ku selalu berkata “Maafkan aku karena aku telah berani mencintaimu”. Aku masih berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengannya seperti apa pun keadaannya sekarang karena aku masih sayang dia.
Aku ingin melihat senyumannya lagi dan aku juga ingin mendengar suaranya yang lembut itu, meski aku tahu bahwa aku tak bisa memiliki dirinya tetapi aku bahagia karena aku pernah mencintainya. Aku pun selalu berharap semoga dia masih ingat bahwa dia pernah bertemu dan juga mengenal diriku.
Ku tutup buku ini dan ku simpan baik-baik supaya tak ada yang tahu hal ini, biarlah hanya aku dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Biarlah aku dianggap pecundang dan biarlah aku menjadi pengagum rahasia mu. Ku hapus air mata ini yang tak terasa menetes di pipiku dan aku pun merasa lebih baik begini karena aku tak mau bila aku mendapatkan dirinya tetapi dia tak bahagia dengan ku. Biarlah aku yang menderita tetapi dirimu bisa bahagia dengan pilihan mu nanti.
-The End-
P.S : Baru nyoba-nyoba nulis cerita jadi kalau jelek ceritanya maaf yah... Mohon komentarnya tapi yang membangun yah hehehe... :)
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer

0 komentar:
Posting Komentar