Senin, 23 November 2009

Konsultasi Psikologi Online

Konsultasi: Anak menonton film porno
TANYA
Salam
Perkenalkan saya N, ibu satu anak perempuan, berumur 8 thn. Saya sedang bingung dgn masalah saya, barusan ini anak saya ketahuan nonton blue movie bersama sepupunya yang sama2 berumur 8 tahun cowok. Mereka ketahuan asyik lihat film itu dari hp milik omnya.
Nah setelah tertangkap basah mereka cuma senyum2 aja. Setelah itu seperti layaknya anak2 mereka sudah kembali main seperti biasa, padahal sudah kami tegur. Yang bikin saya tambah syok, mereka berdua kemudian menggambar apa yg barusan mereka lihat (maaf seperti bentuk alat kelamin laki2, dan yg semacam itu).
Saya sudah menasihati anak sy kalau yg dia perbuat adalah dosa. Tapi sy bingung harus menasehati gmn lg, krn sy takut kalo terlalu sy bahas maka hal itu malah akan membuat mereka semakin penasaran.
Pertanyaan saya :
1. Apa yg harus sy lakukan utk menasehati anak sy?
2. Apakah suatu saat anak sy bs melupakan apa yg telah dilihatnya?
3. Sebagai org tua apa yg hrs sy lakukan?
Sekian surat saya. Mohon sekali balasannya
JAWABAN
Ibu N yang sedang bingung
Apa yang dialami Ibu N juga dialami oleh banyak orangtua yang memiliki anak-anak yang sedang beranjak remaja. Maklum, sekarang tayangan seksual melimpah ada di mana-mana, hal yang tidak kita alami saat kita kecil dulu. Mereka pun menjadi lebih dini mengetahui berbagai hal seputar seksualitas. Oleh karena itu, sudah sewajarnya sejak lebih dini pula kita sebagai orangtua mengenalkan seksualitas pada anak-anak.
Pada umumnya kita masih merasa canggung jika harus mengajarkan hal-hal yang berbau seksualitas pada anak-anak. Dalam alam pikiran kebanyakan orang di Indonesia, seksualitas tidak perlu diajarkan kepada anak-anak. Pada akhirnya mereka sendiri akan tahu kelak ketika beranjak dewasa. Kikuk dan canggung umum dirasakan ketika menghadapi persoalan-persoalan seksualitas anak-anak, seperti yang dialami ibu N. Maklumlah, bicara soal seks dengan pasangan saja masih banyak dari kita yang merasa kikuk. Budaya kita adalah budaya yang sebenarnya cukup terbuka dalam perkara seksualitas, namun tidak untuk membicarakannya. “Lakukan, tapi jangan bicarakan apa-apa” begitulah ajaran seksualitas di tengah-tengah kita.
Akan tetapi, mengingat kebutuhan mendesak untuk mengajarkan seksualitas pada anak-anak kita, maka mau tidak mau (sebaiknya) kita memang menepikan rasa kikuk kita. Bukankah lebih penting anak-anak kita memiliki kehidupan seksualitas yang sehat daripada memenangkan rasa kikuk kita?
Pernah suatu kali seorang Ibu mengeluhkan anaknya yang berumur 9 tahun, menyaksikan secara langsung pasangan muda berhubungan seksual dengan cara mengintip lewat lubang pintu. Si Ibu bingung. Dia resah dan gundah berhari-hari memikirkan bagaimana cara yang paling baik untuk memberi tahu anaknya. Akibatnya momennya sudah lewat, tanpa si anak mendapat pelajaran apapun dari apa yang dilihatnya. Sebagai hasilnya, si anak kemudian senang sekali dengan sengaja menyentuh dada perempuan yang ada di dekatnya, bahkan tidak jarang dia sengaja menyingkapkan rok. Terang saja anak tersebut dimusuhi oleh banyak orang.
Ibu N, anak umur 8 tahun pada saat sekarang ini (ingat bu, jaman ini berbeda dengan 10 atau 20 tahun yang lalu) memang perlu diajari soal seksualitas. Setidaknya itulah pendapat kami. Berikut adalah beberapa tips yang mungkin bisa membantu dalam mengajarkan seksualitas pada anak kita:
1. Berkata secara jujur bahwa “perilaku seks” yang ditontonnya hanya boleh dilakukan orang dewasa yang sudah menikah, sangat berbahaya jika dilakukan orang belum menikah Tekankan bahwa hal-hal seperti itu hanya boleh dan bisa dilakukan oleh orang yang menikah. Ajarkan tentang pernikahan: kapan seseorang boleh menikah (cukup umur atau dewasa – katakan saja di atas 25 tahun-, sudah bekerja, mandiri, dan seterusnya). Berterus terang saja bahwa anak Anda pun kelak akan bisa menikah jika semua syaratnya terpenuhi.
2. Mengajarkan pada anak bahwa tidak menghormati Tuhan jika yang menonton hal-hal seperti itu karena memang belum saatnya. Sebaiknya tidak perlu dikatakan “Terlarang karena dosa”, tapi karena memang belum diperbolehkan oleh agama. Mengecap anak melakukan perbuatan dosa justru bisa berakibat buruk secara psikologis buat anak di masa depan. Si Anak bisa menanamkan rasa bersalah dalam dirinya sendiri dan memiliki cara pandang negatif terhadap seksualitasnya.
3. Mengajarkan bahwa tabu menyatakan (menggambar, berbicara, menulis) hal-hal yang berbau seksual karena orang lain akan malu dan bisa marah jika mengetahuinya. Katakan saja bahwa Anda pun malu jika anak Anda melakukannya.
4. Menjelaskan perbedaan lelaki dan perempuan secara anatomi/biologis, dan
5. Menyatakan bahwa seorang anak lelaki yang baik adalah jika mampu menghormati anak perempuan lainnya (tidak melakukan kekerasan, mendahulukan yang perempuan dalam kondisi tertentu, dan berbagai tindakan konkret lainnya, termasuk tidak mengungkapkan hal-hal berbau seksual kepada anak perempuan), sebaliknya jika anak perempuan.
Semoga bermanfaat. Salam
psikologi-online.com
Menurut saya pendidikan mengenai seks sangat perlu diajarkan kepada anak-anak supaya mereka mendapatkan pengetahuan mengenai seks dengan baik dan positif sehingga mereka tahu dampak positif dan negatifnya. Hal ini karena anak-anak memiliki rasa ingin tahu tentang dunianya dan sebagai orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya.
Sumber : http://psikologi-online.com/

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar