Selasa, 15 Desember 2009

Manfaat Situs Jaringan Pertemanan di Internet

Manfaat Situs Jaringan Pertemanan di Internet

Melalui internet kita bisa menjalin suatu pertemanan dengan siapa saja baik dengan orang yang sudah kita kenal maupun dengan orang yang sama sekali belum kita kenal. Saat ini di internet banyak sekali kita temui situs yang memberikan kita kemudahan untuk melakukan interaksi dengan dunia luar, seperti yahoo, friendster, facebook, twiter, dan masih banyak lagi. Di situs jaringan pertemanan seperti friendster, facebook, twiter bila kita membuat suatu akun dan di profilnya kita memasang foto yang bagus walaupun terkadang ada saja orang-orang tertentu yang sengaja memasang foto orang lain yang lebih menarik di profil mereka, maka hal ini akan menimbulkan daya tarik untuk orang lain yang melihatnya dan orang tersebut akhirnya penasaran lalu mengirimkan suatu pesan pertemanan kepada orang yang menarik perhatiannya itu. Setelah permintaan pertemanan tersebut direspon maka kedua orang tersebut akan menjalin suatu pertemanan walaupun hanya di dunia maya tetapi mereka merasa senang dan asyik-asyik saja, bahkan adanya juga yang sampai berpacaran walaupun kenyataannya mereka tidak pernah bertemu dan konsekuensinya adalah kalau kedua orang tersebut saling bertemu dan ternyata tidak seperti yang diharapkan maka bisa saja timbul kekecewaan. Apa kalian sependapat dengan saya??

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 23 November 2009

Konsultasi Psikologi Online

Konsultasi: Anak menonton film porno
TANYA
Salam
Perkenalkan saya N, ibu satu anak perempuan, berumur 8 thn. Saya sedang bingung dgn masalah saya, barusan ini anak saya ketahuan nonton blue movie bersama sepupunya yang sama2 berumur 8 tahun cowok. Mereka ketahuan asyik lihat film itu dari hp milik omnya.
Nah setelah tertangkap basah mereka cuma senyum2 aja. Setelah itu seperti layaknya anak2 mereka sudah kembali main seperti biasa, padahal sudah kami tegur. Yang bikin saya tambah syok, mereka berdua kemudian menggambar apa yg barusan mereka lihat (maaf seperti bentuk alat kelamin laki2, dan yg semacam itu).
Saya sudah menasihati anak sy kalau yg dia perbuat adalah dosa. Tapi sy bingung harus menasehati gmn lg, krn sy takut kalo terlalu sy bahas maka hal itu malah akan membuat mereka semakin penasaran.
Pertanyaan saya :
1. Apa yg harus sy lakukan utk menasehati anak sy?
2. Apakah suatu saat anak sy bs melupakan apa yg telah dilihatnya?
3. Sebagai org tua apa yg hrs sy lakukan?
Sekian surat saya. Mohon sekali balasannya
JAWABAN
Ibu N yang sedang bingung
Apa yang dialami Ibu N juga dialami oleh banyak orangtua yang memiliki anak-anak yang sedang beranjak remaja. Maklum, sekarang tayangan seksual melimpah ada di mana-mana, hal yang tidak kita alami saat kita kecil dulu. Mereka pun menjadi lebih dini mengetahui berbagai hal seputar seksualitas. Oleh karena itu, sudah sewajarnya sejak lebih dini pula kita sebagai orangtua mengenalkan seksualitas pada anak-anak.
Pada umumnya kita masih merasa canggung jika harus mengajarkan hal-hal yang berbau seksualitas pada anak-anak. Dalam alam pikiran kebanyakan orang di Indonesia, seksualitas tidak perlu diajarkan kepada anak-anak. Pada akhirnya mereka sendiri akan tahu kelak ketika beranjak dewasa. Kikuk dan canggung umum dirasakan ketika menghadapi persoalan-persoalan seksualitas anak-anak, seperti yang dialami ibu N. Maklumlah, bicara soal seks dengan pasangan saja masih banyak dari kita yang merasa kikuk. Budaya kita adalah budaya yang sebenarnya cukup terbuka dalam perkara seksualitas, namun tidak untuk membicarakannya. “Lakukan, tapi jangan bicarakan apa-apa” begitulah ajaran seksualitas di tengah-tengah kita.
Akan tetapi, mengingat kebutuhan mendesak untuk mengajarkan seksualitas pada anak-anak kita, maka mau tidak mau (sebaiknya) kita memang menepikan rasa kikuk kita. Bukankah lebih penting anak-anak kita memiliki kehidupan seksualitas yang sehat daripada memenangkan rasa kikuk kita?
Pernah suatu kali seorang Ibu mengeluhkan anaknya yang berumur 9 tahun, menyaksikan secara langsung pasangan muda berhubungan seksual dengan cara mengintip lewat lubang pintu. Si Ibu bingung. Dia resah dan gundah berhari-hari memikirkan bagaimana cara yang paling baik untuk memberi tahu anaknya. Akibatnya momennya sudah lewat, tanpa si anak mendapat pelajaran apapun dari apa yang dilihatnya. Sebagai hasilnya, si anak kemudian senang sekali dengan sengaja menyentuh dada perempuan yang ada di dekatnya, bahkan tidak jarang dia sengaja menyingkapkan rok. Terang saja anak tersebut dimusuhi oleh banyak orang.
Ibu N, anak umur 8 tahun pada saat sekarang ini (ingat bu, jaman ini berbeda dengan 10 atau 20 tahun yang lalu) memang perlu diajari soal seksualitas. Setidaknya itulah pendapat kami. Berikut adalah beberapa tips yang mungkin bisa membantu dalam mengajarkan seksualitas pada anak kita:
1. Berkata secara jujur bahwa “perilaku seks” yang ditontonnya hanya boleh dilakukan orang dewasa yang sudah menikah, sangat berbahaya jika dilakukan orang belum menikah Tekankan bahwa hal-hal seperti itu hanya boleh dan bisa dilakukan oleh orang yang menikah. Ajarkan tentang pernikahan: kapan seseorang boleh menikah (cukup umur atau dewasa – katakan saja di atas 25 tahun-, sudah bekerja, mandiri, dan seterusnya). Berterus terang saja bahwa anak Anda pun kelak akan bisa menikah jika semua syaratnya terpenuhi.
2. Mengajarkan pada anak bahwa tidak menghormati Tuhan jika yang menonton hal-hal seperti itu karena memang belum saatnya. Sebaiknya tidak perlu dikatakan “Terlarang karena dosa”, tapi karena memang belum diperbolehkan oleh agama. Mengecap anak melakukan perbuatan dosa justru bisa berakibat buruk secara psikologis buat anak di masa depan. Si Anak bisa menanamkan rasa bersalah dalam dirinya sendiri dan memiliki cara pandang negatif terhadap seksualitasnya.
3. Mengajarkan bahwa tabu menyatakan (menggambar, berbicara, menulis) hal-hal yang berbau seksual karena orang lain akan malu dan bisa marah jika mengetahuinya. Katakan saja bahwa Anda pun malu jika anak Anda melakukannya.
4. Menjelaskan perbedaan lelaki dan perempuan secara anatomi/biologis, dan
5. Menyatakan bahwa seorang anak lelaki yang baik adalah jika mampu menghormati anak perempuan lainnya (tidak melakukan kekerasan, mendahulukan yang perempuan dalam kondisi tertentu, dan berbagai tindakan konkret lainnya, termasuk tidak mengungkapkan hal-hal berbau seksual kepada anak perempuan), sebaliknya jika anak perempuan.
Semoga bermanfaat. Salam
psikologi-online.com
Menurut saya pendidikan mengenai seks sangat perlu diajarkan kepada anak-anak supaya mereka mendapatkan pengetahuan mengenai seks dengan baik dan positif sehingga mereka tahu dampak positif dan negatifnya. Hal ini karena anak-anak memiliki rasa ingin tahu tentang dunianya dan sebagai orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya.
Sumber : http://psikologi-online.com/

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Dampak negatif penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Dampak negatif penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Ibu Endang merasa beruntung anak-anaknya ‘bersahabat’ dengan komputer sejak dini. Fatih (9), anaknya yang pertama, tak hanya senang bermain games, namun juga lancar mengoperasikan berbagai program olah kata dan angka. Sementara adiknya, Nadia (4) yang baru belajar mengenal komputer, sudah asyik menjajal program pendidikan dalam mengenal warna dan bentuk saja. Fatih kini pintar matematika lantaran sering berlatih dengan bantuan komputer. Sementara Nadia punya banyak kosakata bahasa Inggris juga lantaran sering bermain komputer.
Tetapi, Ibu Rahmi justru merasa punya masalah dengan ‘keakraban’ anaknya dengan komputer. Menurutnya, Rizki (7 tahun) kini lebih sukai ‘bermain’ dengan komputernya daripada dengan teman-temannya. Rizki bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain games. Ia juga malas bila diajak menulis atau menggambar. Tak heran, tugas menggambar di sekolah tidak pernah dikerjakannya sampai tuntas. Tetapi, untuk menggambar di komputer ia sangat pandai. Maklum, dengan satu dua klik-an saja, ia sudah dapat menggambar dan mewarnai dengan sempurna.
Pernah punya pengalaman senada? Positif-Negatif Nina Armando, Staf Pengajar Jurusan Komunikasi FISIP UI, mengatakan bahwa kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.
Senada dengan Nina, Muhammad Rizal, Psi, Psikolog di Lembaga Psikologi Terapan UI, mengatakan banyak manfaat dapat diambil dari penggunaan komputer, namun tak sedikit pula mudhorot yang bisa ditimbulkannya.
Diantara manfaat yang dapat diperoleh adalah penggunaan perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
Manfaat lain bisa diperoleh anak lewat program aplikasi berbentuk games yang umumnya dirancang untuk tujuan permainan dan tidak secara khusus diberi muatan pendidikan tertentu. Beberapa aplikasi games dapat berupa petualangan, pengaturan strategi, simulasi, dan bermain peran (role-play).
Dalam kaitan ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi.
Namun, sisi mudhorot penggunaan komputer tak juga bisa diabaikan. Salah satunya adalah dari kemungkinan anak, kemungkinan besar tanpa sepengetahuan orangtua, ‘mengkonsumsi’ games yang menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak.
Akses negatif lewat internet Pengaruh negatif lain, disepakati Nina dan Rizal adalah terbukanya akses negatif anak dari penggunaan internet. Mampu mengakses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet.
Melalui internetlah berbagai materi bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang. Nina mengungkapkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12 anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks, saat tengah berselancar di internet.
Meski demikian, baik Nina maupun Rizal sepakat bahwa mengajarkan internet bagi anak, di zaman sekarang merupakan hal penting. Hanya saja, demi mencegah dampak negatifnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orangtua.
Pertama, orangtualah yang seharusnya mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, ujar Nina, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gaptek. ”Sayangnya, seringkali anaknya sudah terlalu canggih, sementara orangtuanya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana membuka internet, juga tidak tahu apa-apa soal games yang suka dimainkan anak. Nanti ketika ada akibat buruknya, orangtua baru menyesal,” sesal Nina.
Kedua, gunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.
Ketiga, letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
Cegah kecanduan Pengaruh negatif lain bagi anak, menurut Rizal, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer. Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial.
Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, menurut Rizal, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.
Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
Peran penting orangtua Menimbang untung ruginya mengenalkan komputer pada anak, pada akhirnya memang amat tergantung pada kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi anak saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua, Rizal kembali mengingatkan peran penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak.
Pertama, berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.
Kedua, perhatikan bahwa komputer juga punya efek-efek tertentu, termasuk pada fisik seseorang. Karena perhatikan juga amsalah tata ruang dan pencahayaan. Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak.
Ketiga, pilihlah perangkat lunak tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sekalipun yang dipilih merupakan program edutainment ataupun games, sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.
Keempat, perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan Central Processing Unit (CPU) komputer.
Kelima, carikan anak meja atau kursi yang ergonomis (sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuh anak), yang nyaman bagi anak sehingga anak dapat memakainya dengan mudah. Jangan sampai mousenya terlalu tinggi, atau kepala harus mendongak yang dapat menyebabkan kelelahan. Alat kerja yang tidak ergonomis juga tidak baik bagi anatomi anak untuk jangka panjang.
Keenam, bermain komputer bukan satu-satunya kegiatan bagi anak. Jangan sampai anak kehilangan kegiatan yang bersifat sosial bersama teman-teman karena terlalu asik bermain komputer.
Sumber :http://info.balitacerdas.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=33

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer